Today : 23-10-2017
Newsflash
Galery
Pencarian
Publikasi

PENYAKIT GANDUM BARU MENYEBAR LEBIH CEPAT DARI YANG DIPERKIRAKAN

2010-03-30 | by: admin

Baik penyakit tumbuhan dan manusia yang dapat menyebar melalui udara, memiliki potensi untuk menyebar lebih cepat dari yang telah diketahui, berdasarkan studi terbaru, hal ini merupakan perhatian serius tidak hanya untuk penyakit manusia tetapi juga cendawan baru yang dapat mengancam produksi gandum secara global.

Baik penyakit tumbuhan dan manusia yang dapat menyebar melalui udara, memiliki potensi untuk menyebar lebih cepat dari yang telah diketahui, berdasarkan studi terbaru, hal ini merupakan perhatian serius tidak hanya untuk penyakit manusia tetapi juga cendawan baru yang dapat mengancam produksi gandum secara global.

Para peneliti dari Oregon State University dan institusi lainnya, menyimpulkan bahwa invasi penyakit tidaklah selalu berkembang secara teratur dan konstan. Studi dari penyakit hewan dan tumbuhan menunjukkan bahwa beberapa pathogen yang menjadikan udara sebagai media pembawa, dapat mempercepat pergerakannya, dan dapat menjadi lebih cepat tersebar luas dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Adalah menjadi jelas bahwa beberapa jenis penyakit dapat menyebar lebih cepat dan luas dari yang kita antisipasi,” ujar Chris Mundt, profesor patologi tumbuhan dari OSU. “Ini menjadi hal yang sangat penting, pada beberapa kasus, untuk menghentikan penyakit secara cepat yang menyebar jika anda ingin menghentikan secara tuntas.”

Studi tersebut menjelaskan, bagaimana West Nile Virus menyebar begitu cepat di Amerika Serikat ketika para ahli berharap adanya metode pergerakan yang lambat terhadap virus tersebut. Mereka membantu menganalisis sejarah perkembangan beberapa masalah penyakit, seperti bencana besar potato late blight yang menyebabkan kekurangan kentang di Irlandia pada pertengahan 1840. Dan mereka menyatakan bahwa patogen jamur baru dari gandum yang muncul beberapa tahun yang lalu di Uganda menjadi ancaman penting bagi produksi gandum di seluruh dunia dari yang diperkirakan.

Para peneliti menggunakan stripe rust dari gandum, yang memiliki spora yang dapat menyebar melalui angin, sebagai model untuk membantu menjelaskan bagaimana patogen ini dan lainnya dapat berpindah. Mundt, seorang ahli patogen internasional, telah mempelajari stripe rust selama bertahun-tahun.

“Jika kita tidak memiliki tanaman yang dapat tahan terhadap gandum stem rust, kita tidak akan memiliki industri gandum,” ujar Mundt. “Dari patogen ini kita belajar banyak mengenai daya tahan terhadap penyakit tanaman secara umum, dan juga bagaimana patogen dapat berpindah dan menyebar. Dan studi baru ini mengkonfirmasikan bahwa hal ini penting untuk bersiap-siap terhadap penyebaran yang cepat dari varietas baru gandum stem rust yang muncul di Uganda pada tahun 1999.”

Jenis terbaru dari stem rust gandum, ujar Mundt, memiliki potensi untuk menyerang 75 persen dari varietas gandum didunia, dan kemungkinan dapat menyebabkan sampai dengan 50 persen kehilangan hasil panen di beberapa belahan dunia.

Masyarakat sadar terhadap masalah ini, telah bekerja untuknya dan berharap mereka dapat mengembangkan varietas gandum yang memiliki daya tahan terhadapnya, ujar Mundt.

“Masalah penyakit gandum ini dapat menjadi masalah global dalam beberapa tahun,” ujar Mundt. “Adalah hal yang bodoh apabila kita mengabaikannya.”

Kebanyakan penyakit hewan dan tumbuhan yang menyebar melalui kontak langsung maupun jarak dekat, cenderung untuk berpindah dalam prediksi yang wajar dan kecepatan yang konstan, ujar para peneliti. Bagaimanapun, beberapa patogen dapat memperbanyak diri dengan spora yang dibawa oleh angin atau migrasi burung. Pada kasus ini, meskipun hanya sebagian kecil dari penyerbuan patogen terlihat di setiap daerah terpencil, tetapi mereka memiliki potensi untuk menjadikan tumpuan dan menyebar cepat pada lokasi yang jauh – memberikan serbuan pathogen kemampuan untuk mempercepat diri sebagai wabah epidemik.

Hanya dalan waktu 2 tahun dari 2004 – 2006, penyakit avian influenza menyebar melewati tiga buah benua yaitu Afrika, Eropa dan Asia, dibawa oleh migrasi burung. Dari sumber awal infeksi di New York City pada tahun 1999, Virus West Nile menyebar hampir di seluruh Amerika Utara selama kurun tiga tahun, dan kemudian ke seluruh Hemisphere bagian Barat.

Penyebaran penyakit tersebut kelihatannya mengikuti ketentuan rumus matematika, menurut peneliti.

“Adalah hal yang mengejutkan melihat bagaimana dekatnya penyebaran penyakit hewan, tumbuhan dan manusia mengikuti persamaan matematika.” ujar Mundt. “Hal ini memberikan kita kemampuan lebih untuk memprediksikan bagaimana bermacam jenis penyakit dapat berpindah, dan berharap kita dapat mengantisipasinya.”

Meskipun sistem transportasi cepat menjadi salah satu media penting dalam penyebaran patogen baru di belahan dunia, ujar Mundt, kebanyakan penyebaran penyakit masih dilakukan melalui mekanisme alamiah ketika penyakit tersebut muncul, bukan ketika orang naik pesawat terbang.

Studi ini dipublikasikan di American Naturalist, sebuah jurnal profesional. (Sumber : ScienceDaily)

Dibaca : 4726 kali


Kegiatan



Tanggal Kegiatan Deskripsi